I. Pengertian Kurikulum
Menurut Smith (2000) asal usul kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani Kuno yang secara literal berarti jalan. Dalam lingkup pendidikan formal pengertian kurikulum sudah menjadi hal yang sentral dan telah menjadi sumber rujukan yang menjadi identitas. Definisi mengenai kurikulum sangat beragam serta spektrumnya pun sangat luas. Mulai dari defisini yang sangat sempit dimana kurikulum adalah “plan for learning” [perencanaan pembelajaran] dari Taba sampai ke pemahaman yang sangat luas dari de Marrie dan Le Compte: “total school experience provided to students whetter planned or unplanned” [pengalaman belajar yang diberikan kepada siswa baik direncanakan ataupun tidak] (dikutif dari O’Neill et al., 2004). Ataupun definisi yang juga cukup luas cakupannya didapat dari John Kerr “All the learningwhich is planned and guided by the school, whetter it is carried on in groups or individually, inside or outside the school” [pembelajaran yang direncanakan dan dibimbing di sekolah, baik itu diberikan secara kelompok ataupun individu, di dalam maupun di luar lingkungan sekolah] (dikutif dari Kelly, 1999). Sedengkan kan definisi kurikulum dari Depdiknas (2006) menyatakan bahwa “kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraankegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan”.
Definisi kurikulum dari Taba dan Depdiknas bersifateksplisit yang ditujukan pada siswa dengan mendeskripsikan komponen yang sederhana saja dalam mengartikan kurikulum. Yaitu definisi yang hanya melibatkan guru, siswa dan bahan pelajaran yang akan diberikan; hal ini menunjukkan adanya perspektif kekuasaan dan satu arah dalam cara memandang kurikulum. Pandangan seperti yang dikemukakan oleh Depdiknas adalah pandangan tradisional dimana pihak penguasa (pemerintah) biasanya memutuskan jenis pengetahuan apa saja yang berharga (what knowledge is of most worth) untuk dipelajari oleh warga negara (things-to-be-learned) yang kemudian diberikan dalam bentuk transmisi informasi (bersifat top-down).
Definisi-definisi kurikulum oleh tokoh lainnya:
- Pengertian Kurikulum Menurut Inlow (1966): Kurikulum adalah usaha menyeluruh yang dirancang oleh pihak sekolah untuk membimbing murid memperoleh hasil pembelajaran yang sudah ditentukan.
- Pengertian Kurikulum Menurut Neagley dan Evans (1967): kurikulum adalah semua pengalaman yang dirancang dan dikemukakan oleh pihak sekolah.
- Pengertian Kurikulum Menurut Beauchamp (1968): Kurikulum adalah dokumen tertulis yang mengandung isi mata pelajaran yang diajar kepada peserta didik melalui berbagai mata pelajaran, pilihan disiplin ilmu, rumusan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
- Pengertian Kurikulum Menurut Good V. Carter (1973): Kurikulum adalah kumpulan kursus ataupun urutan pelajaran yang sistematik.
- Pengertian Kurikulum Menurut UU No. 20 Tahun 2003: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
II. Prinsip Dasar Kurikulum
Prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum menurut Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata terdiri dari dua hal yaitu prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus. Prinsip-prinsip umum meliputi :
• Relevansi
Dalam hal ini dapat dibedakan relevansi keluar yang berarti bahwa tujuan, isi, dan proses belajar harus relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat dan relevansi ke dalam berarti bahwa terdapat kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian yang menunjukkan keterpaduan kurikulum.
• Fleksibilitas
Kurikulum harus dapat mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan di tempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Hal ini berarti bahwa kurikulum harus berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.
• Kontinuitas
Terkait dengan perkembangan dan proses belajar anak yang berlangsung secara berkesinambungan, maka pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas dengan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang lainnya, serta antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan.
• Praktis/efisiensi
Kurikulum harus praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya murah. Dalam hal ini, kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia.
• Efektifitas
Efektifitas berkenaan dengan keberhasilan pelaksanaan kurikulum baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Kurikulum merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan dari kebijakan-kebijakan pemerintah. Dalam pengembangannya, harus diperhatikan kaitan antara aspek utama kurikulum yaitu tujuan, isi, pengalaman belajar, serta penilaian dengan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.
Prinsip-prinsip khusus dalam pengembangan kurikulum meliputi:
• Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan pusat dan arah semua kegiatan pendidikan sehingga perumusan komponen pendidikan harus selalu mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan ini bersifat umum atau jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada ketentuan dan kebijakan pemerintah, survey mengenai persepsi orangtua / masyarakat tentang kebutuhan mereka, survey tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, survey tentang manpower, pengalaman-pengalaman negara lain dalam masalah yang sama, dan penelitian.
• Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
Dalam perencanaan kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal, yaitu perlunya penjabaran tujuan pendidikan ke dalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana, isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan, dan unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis.
• Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar-mengajar
Pemilihan proses belajar mengajar hendaknya mempertimbangkan beberapa hal, yaitu apakah metode yang digunakan cocok, apakah dengan metode tersebut mampu memberikan kegiatan yang bervariasi untuk melayani perbedaan individual siswa, apakah metode tersebut juga memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat, apakah penggunaan metode tersebut dapat mencapai tujuan kognitif, afektif dan psikomotor, apakah metode tersebut lebih menaktifkan siswa, apakah metode tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru, apakah metode tersebut dapat menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan rumah sekaligus mendorong penggunaan sumber belajar di rumah dan di masyarakat, serta perlunya kegiatan belajar yang menekankan learning by doing, bukan hanya learning by seeing and knowing.
• Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Proses belajar mengajar perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa hal berikut, yaitu alat/media apa yang dibutuhkan, bila belum ada apa penggantinya, bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, bagaimana pembiayaannya, dan kapan dibuatnya, bagaimana pengorganisasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar, serta adanya pemahaman bahwa hasil terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media
• Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan kegiatan penilaian meliputi kegiatan penyusunan alat penilaian harus mengikuti beberapa prosedur mulai dari perumusan tujuan umum, menguraikan dalam bentuk tingkah laku siswa yang dapat diamati, menghubungkan dengan bahan pelajaran dan menuliskan butir-butir tes. Selain itu, terdapat bebarapa hal yang perlu juga dicermati dalam perencanaan penilaian yang meliputi bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan siswa yang akan dites, berapa lama waktu pelaksanaan tes, apakah tes berbentuk uraian atau objective, berapa banyak butir tes yang perlu disusun, dan apakah tes diadministrasikan guru atau murid. Dalam kegiatan pengolahan haisl penilaian juga perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu norma apa yang digunakan dalam pengolahan hasil tes, apakah digunakan formula guessing bagaimana pengubahan skor menjadi skor masak, skor standar apa yang digunakan, serta untuk apa hasil tse digunakan
III. Strategi Implementasi Kurikulum 2013
Tujuan kurikulum 2013 adalah untuk menhasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Untuk mewujudkan itu dalam implementasinya guru dituntut untuk merancang pembelajaran yang efektif dan bermakna, mengorganisasikan pembelajaran, memilih pendekatan pembelajaran yang tepat, menentukan prosedur pembelajaran, pembentukan kompetensi secara efektif, dan menetapkan kriteria keberhasilan.
1. Merancang Pembelajaran Efektif dan Bermakna
Pembelajaran efektif dan bermakna dapat dirancang oleh setiap guru, dengan prosedur sebagai berikut.
a. Pemanasan dan Apersepsi
Pemanasan dan apersepsi dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut.
Pembelajaran diawali dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami peserta didik
Peserta didik dimotivasi dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi kehidupan mereka.
Peserta didik digerakkan agartertarik untuk mengetahui hal – hal yang baru.
b. Eksplorasi
Eksplorasi merupakan kegiatan pembelajaran untuk mengenalkan bahan kemudian dikaitkan dengan pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik.
c. Konsolidasi pembelajaran
Konsolidasi pembelajaran merupakan kegiatan pembelajaran untuk mengaktifkan peserta didik dalam proses pembentukan kompetensi dan karakter, serta menghubungkannya dengan kehidupan nyata.
d. Pembentukan sikap, kompetensi, dan karakter
Pembentukan sikap, kompetensi, dan karakter dapat dilaksanakan dengan cara peserta didik didorong untuk menerapkan konsep, pengertian, kompetensi, dan karakter yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari; menggunakan kegiatan praktikum jika materi yang dipelajari menunjang kegiatan praktikum, agar peserta didik dapat membangun sikap, kompetensi, dan karakter baru dalam kehidupan sehari-hari.
e. Penilaian formatif
Penilaian formatif dikembangkan sesuai dengan cara penilaian untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik. Hasil penilaian digunakan untuk menganalisis kelemahan peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi guru dalam membentuk karakter dan kompetensi.
2. Mengorganisasikan Pembelajaran
Implementasi kurikulum 2013 menuntut guru untuk mengorganisasikan pembelajaran secara efektif. Mengorganisasikan pembelajaran secara efektif terdapat lima hal yang perlu diperhatikan yaitu:
a. Pelaksanaan pembelajaran
Pembelajaran dalam implementasi kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi hendaknya dilaksanakan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Oleh karena itu pembelajaran berbasis karakter dan kompetensi sudah seharusnya dijadikan sebagai acuan dan dipahami oleh para guru.
b. Pengadaan dan pembinaan tenaga ahli
Implementasi kurikulum 2013 diperlukan pengadaan dan pembinaan tenaga ahli, yang memiliki sikap,pribadi, kompetensi, dan keterapilan yang berkaitan dengan pembelajaran berbasis kompetensi dan karakter.
c. Pendayagunaan lingkungan sumber belajar
Implementasi kurikulum 2013 agak terlaksana dengan baik maka diperlukan pendayagunaan sumber belajar dengan baik. Untuk kepentingan tersebut guru dituntut untuk mendayagunakan lingkungan sosial, serta menjalin kerjasama yang baik dengan unsur-unsuryang terkait dengan pendayagunaan.
d. Pengembangan kebijakan sekolah
Implementasi kurikulum perlu didukung oleh kebijakan – kebijakan kepala sekolah. Kebijakan yang baik akan dapat memberikan kemudahan dan kelancaran dalam implementasi kurikulum 2013.
3. Memilih
Memilih pendekatan pembelajaran, seorang guru harus tahu filsafat ilmunya dan filsafat pendidikannya. Filsafat ilmunya merupakan proses penemuan konsepnya dari tokoh yang menemukannya. Filsafat pendidikan merupakan proses yang melahirkan suatu pendekatan pembelajaran. Guru dalam memilih pendekatan yang tepat yaitu dengan menghubungkan filsafat pendidikan dari pendekatan pembelajaran itu dengan filsafat ilmu (konsep) yang akan diajarkan.
4. Menentukan Pendekatan Pembelajaran
Implementasi kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang cocok dengan basis kurikulum 2013 diantaranya pendekatan pembelajaran kontekstual, bermain peran, pembelajaran partisipatif, belajar tuntas, pembelajaran kontruktivisme.
5. Melaksanakan Pembelajaran, Pembentukan Kompetensi, dan Karakter
Pembelajaran dalam menyukseskan implementasi kurikulum 2013 merupakan keseluruhan proses belajar, pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik yang direncanakan. Untuk kepentingan tersebut kompetensi inti, kompetensi dasar, materi standar, indikator pembelajaran, dan waktu yang diperlukan harus ditetapkan sesuai dengan kepentingan pembelajaran, sehingga peserta didik memperoleh kesempatan dan pengalaman belajar dengan optimal. Kegiatan pembelajaran pada umumnya mencakup kegiatan awal, kegiatan inti (pembentukan kompetensi dan karakter) , dan kegiatan akhir atau penutup.
6. Menetapkan Kriteria Keberhasilan
Keberhasilan implementasi kurikulum 2013 dalam pembentukan kompetensi dan karakter dapat dilihat dari segi proses dan segi hasil. Dari segi proses dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruh atau sebagian besar 75% peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran. Dari segi hasil dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku positif pada peserta didik seluruhnya atau sebagian besar 75%. Pembentukan kompetensi dan karakter diakatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan ouput yang banyak dan bermutu tinggi, perkembangan masyarakat dan pembangunan yang semakin maju. Hal tersebut agar terpenuhi perlu dikembangkan pembelajaran yang kondusif untuk membentuk manusia yan berkualitas tinggi baik mental, moral maupun fisik.
IV. Keunggulan dan Kelemahan Kurikulum 2013
- Keunggulan Kurikulum 2013
- Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah (kontekstual), karena berangkat, berfokus, dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensi.
- Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain.
- Bidang-bidang studi tertentu pengembangannya menggunakan pendekatan kompetensi.
- Siswa dituntut untuk aktif, kreatif dan inovatif dalam pemecahan masalah.
- Penilaian didapat dari semua aspek.
- Kompetensi menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
- Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan).
- Kurikulum 2013 tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global. . Untuk tingkat SD, penerapan sikap masih dalam ruang lingkup lingkungan sekitar.
- Standar penilaian mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara proporsional)
- Meningkatkan motivasi mengajar dengan meningkatkan kompetensi profesi, pedagogik, sosial, dan personal.
- Banyak guru yang beranggapan bahwa dengan kurikulum terbaru ini guru tidak perlu menjelaskan materinya. Padahal kita tahu bahwa belajar matematika, fisika,dll tidak cukup hanya membaca saja. Peran guru sebagai fasilitator tetap dibutuhkan, terlebih dalam hal memotivasi siswa untuk aktif belajar.
- Sebagian besar guru belum siap sebagai fasilitator untuk mengembangkan karakter dan kompetensi peserta didik. Untuk itu diperlukan pelatihan-pelatihan dan pendidikan agar merubah paradigma guru sebagai pemberi materi menjadi guru yang dapat memotivasi peserta didik.
- Konsep pendekatan scientific masih belum dipahami, apalagi tentang metoda pembelajaran yang kurang aplikatif disampaikan.
- Ketrampilan merancang RPP dan penilaian autentik belum sepenuhnya dikuasai oleh guru.
- Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013. Pemerintah melihat seolah-olah guru dan siswa mempunyai kapasitas yang sama.
- Tidak ada keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih diberlakukan. UN hanya mendorong orientasi pendidikan pada hasil dan sama sekali tidak memperhatikan proses pembelajaran.
Daftar Rujukan
http//:Komponen Pengembangan Kurikulum 2013 pada Bahan Uji Publik Kurikulum 2013 _ Kabar UPI.htm
http://s2fisikaum.blogspot.co.id/2015/03/konsep-dasar-kurikulum-2013.html
Mulyasa, E. 2014. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Nuryani, W. 2010. Kajian dan Pengembangan Kurikulum. Yogyakarta: Universitas
Negeri Yogyakarta.
Syaodih, nana. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya Offset.